Jumat, 09 Januari 2009

Inspirasi

Anda mukin pernah merasakan kejenuhan yang luar biasa dikarenakan beban berat yang anda pikul. Bagaimana caranya agar beban-beban itu tidak memberatkan anda?

Manajemen Stress
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira-kira segelas air ini?" Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. "Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. " kata Covey. "Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat." "Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey. "Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi". Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa.

Rabu, 07 Januari 2009

Jangan Jadi Pengecut

Ada seorang penembak jitu terkenal. Dalam setiap pertarungan duel dia selalu menang. Sehingga jika ada turnamen, ketika disebutkan namanya, musuh-musuhnya langsung ketakutan terlebih dahulu. Begitu hebatnya orang tersebut.

JANGAN JADI PENGECUT
Ada seorang penembak jitu terkenal. Dalam setiap pertarungan duel dia selalu menang. Sehingga jika ada turnamen, ketika disebutkan namanya, musuh-musuhnya langsung ketakutan terlebih dahulu. Begitu hebatnya orang tersebut.
Pada suatu hari, dia makan malam disuatu restoran. Entah bagaimana awalnya, dia beradu mulut dengan salah satu pengunjung di restoran itu. Dan pada akhirnya, dia menantang orang tersebut untuk berduel pistol. Tawarannya diterima orang itu. Kemudian ditentukanlah kapan mereka berduel, yaitu tiga hari berikutnya di alun-alun kota.
Tiba saatnya menunggu hari-H. Penembak jitu itupun mempersiapkan dirinya. Baginya ini adalah pertarungan menjaga kehormatan. Baru kali ini ada orang yang menerima tantangannya. Mulailah timbul kegelisahan dihatinya. Orang yang akan berduel dengannya adalah orang asing baginya. Belum pernah dia mendengan nama orang itu. Belum juga dia tahu bagaimana trak record orang itu. Dia buka buku daftar nama penembak jitu terkenal. Tidak ada nama dia. Tapi mengapa dia berani menerima tantangannya? Apakah orang itu tidak tahu kalao dia adalah penembak nomor wahid tahun ini? Tapi mengapa dia berani menerima tantangannya? Muncul pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Dan dia semakin gelisah.
H-2. Waktu semakin mendekat. Tiba-tiba dia menggigil kedinginan. Demam. Perasaannya semakin bergejolak. Muncul ketakutan di hatinya. “Tidak! Aku tidak takut. Dan aku akan memenangkan duel itu. Tidak! Aku tidak takut!”
H-1. Demamnya semakin tinggi. Dia ambil obat penenang, tapi malah semakin gelisah. Badannya terus menggigil. Dia hisap sebatang rokok. Tapi tidak membuatnya tenang. Gelisah!! Dia bercermin. Dia lihat wajahnya yang berkeringat dingin. Pucat. “Tidak!! Aku tidak takut. Aku akan menang. Aku akan membunuhnya.” Teriaknya pada diri sendiri. Dia ambil pistol dari laci. Dia periksa isinya. Tersisa 1 peluru, tapi itu cukup baginya untuk membunuh lawannya besok. Karena dalam satu kali tembakan, musuh pasti akan terjungkal, tewas.
Kembali dia melihat wajahnya di cermin. Dia takut dengan wajahnya. Dia lihat pistolnya. Gemetarlah tubuhnya. Sungguh kegelisahan yang tak dapat tergambarkan. Dia angkat pistolnya, dan….dorrrrrrrr.. Dia menembak kepalanya sendiri, dia roboh, dia tewas, pengecut.
Sahabat,
Kisah tersebut menggambarkan, bagaimana diri ini melawan ketakutan yang sesungguhnya berasal dari diri sendiri juga. Sering kita menghadapi situasi seperti itu. Sebelum bertindak, kita ketakutan, takut gagal, takut malu, dan hantu takut lainnya. Padahal sebenarnya itu hanyalah perasaan kita belaka. Tapi tidak kemudian mengesampingkan pertimbangan sebelum kita bertindak. Pertimbangan itu perlu, agar apa yang kita lakukan atau kerjakan, dapat terukur sejauhmana manfaat dan mudharatnya, baik untuk diri kita, terlebih untuk orang lain. Ingat, kita harus berprinsip untuk menjadi manusia yang berguna bagi yang lain (khairunnas anfaahum linnas).
Yang harus kita hindari adalah ketakutan akan kegagalan atau kekalahan dalam suatu perjuangan dan pengorbanan. Takut sebelum bertindak adalah pengecut. Takut sebelum bertindak berarti tidak mensyukuri karunia Tuhan kepada kita. Tuhan telah menganugerahi potensi akal. Akal inilah yang membuat kita lebih tinggi dari binatang. Namun penuhilah akal kita dengan keimanan dan ketakwaan yang kokoh, sehingga dengannya akan menjadikan kita mulia dihadapan-Nya. Karena yang ditakuti bukanlah dirinya, bukanlah musuh-musuhnya, atau mahluk lainnya. Yang ditakuti hanyalah Allah SWT, takut dengan ancaman siksa neraka-Nya jika kita khianat pada-Nya, yaitu tidak menjalankan apa yang telah disyariatkan dan diamanahkan kepada kita.
Semoga kita menjadi manusia yang hanya takut pada Allah. Sehingga kita akan hati-hati sebelum bertindak. Bukan takut gagal atau kalah. Tapi takut jika apa yang kita kerjakan membuat Allah murka kepada kita.


By: Imam Kamal

Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW

Ingin tahu bagaimana saat-saat yang paling sedih para sahabat ketika Rasul wafat? Sungguh, air matamu pasti akan mengalir (jika ada cinta dihatimu). Begitulah para sahabat, bahkan banyak yang tidak percaya kalau Yang Mulia telah berpulang...

Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya.
Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.
“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.
Fatimah menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan.
Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.
Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling.
Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya. Seperti Allah dan Rasul mencintai kita semua.